Komoditi Yang Kami Beli

PT. Putra Nasa Mandiri membeli dengan harga tertinggi, untuk quantity berapun, dan kami bayar CASH. Semakin besar jumlah penjualan yang kontrakan / dijual kepada kami, semakin tinggi pula kami berikan harga. Terima jagung pipil dan bekatul separator dari seluruh penjuru nusantara.

Mengenal Jagung Pipil

Jagung pipil merupakan bulir jagung yang telah dipisahkan dari kelobot (kulit yang melapisi buah jagung) dan dari tongkolnya dengan teknik khusus tanpa mengiris daging jagung. Jagung pipil juga merupakan bahan pangan yang memiliki kandungan karbohidrat sangat tinggi. Di Indonesia, kebutuhan jagung pipil sangat besar hingga mencapai 10 juta ton per tahun. Hal ini terjadi karena jagung pipil telah dijadikan sebagai bahan baku utama (>50%) untuk memproduksi pakan ternak oleh industri pakan ternak.

Prospek Penjualan Jagung Pipil

Perkembangan industri peternakan di Indonesia berpotensi meningkatkan permintaan terhadap jagung pipil, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan potensi pasar bagi komoditas jagung pipil. Jagung Pipil atau Jagung Pakan Ternak. PT. Putra Nasa Mandiri (PT. PNM) berpengalaman dalam jual beli jagung pipilan atau disebut juga jagung pakan ternak. Kami menjual jagung impor yang dilakukan saat jagung lokal tidak memenuhi kebutuhan peternakan Indonesia. Kami menyediakan jagung impor dengan jumlah besar seiring kebutuhan peternakan Indonesia tidak tercukupi oleh hasil panen negeri sendiri. Harga yang kami berikan fantastis murah karena untuk penyeimbang jagung dikala jagung lokal belum pada masa panen ataupun pada masa transisi tanam. PT. PNM juga membeli jagung pipilan kering lokal yang memberikan harga fantastis tinggi manakala jagung lokal pada masa panen maupun pra dan pasca panen. Kami bermitra dengan para tengkulak ataupun pengepul untuk pemenuhan kebutuhan peternakan Indonesia baik secara langsung maupun melalui pabrik pakan / feed mill Indonesia. Kami distributor kedua belah pihak antara pembeli dan penjual. Kemitraan membuat kami kuat dalam segmen harga dan kuantiti yang mana hal tersebut sangat berpengaruh pada perkembangan harga. Jagung adalah bahan baku pakan ternak yang utama sehingga kebutuhan akan jagung adalah mutlak.

Jagung (Zea mays L) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber makanan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena, dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya. Tongkol jagung kaya akan gula pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Jagung pada mulanya digunakan sebagai pangan pokok di beberapa Negara sebagai sumber karbohidrat. Namun seiring berkembangnya industri unggas pada awal 1970an, maka jagung mulai dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk pakan unggas modern. Permintaan jagung untuk pakan terus meningkat sejalan dengan berkembangnya industri pakan unggas. Saat ini sebagian besar produksi jagung digunakan untuk pakan dan volume penggunaanya untuk pangan cenderung menurun.

Jagung merupakan bahan baku pakan ternak, bahan baku jenis ini digunakan sebagai bahan baku pakan sumber energi, karena kadar proteinnya rendah (8.9%) bahkan desifisiensi terhadap asam amino penting terutama lysine dan triptofan. Dalam buku Profil Bahan Pakan Impor keluaran Dirjennak disebutkan bahwa Jagung merupakan sumber energi utama pakan, terutama untuk ternak monogastrik seperti ayam, itik, dan babi karena kandungan energi yang dinyatakan sebagai energi termetabolis (ME), relatif tinggi di banding bahan pakan lainnya. Dalam ransum unggas baik ayam broiler maupun ayam petelur, jagung menyumbang lebih dari separuh energi yang dibutuhkan ayam. Tingginya kandungan energi jagung berkaitan dengan tingginya kandungan pati (>60%) biji jagung. Disamping itu jagung mempunyai kandungan serat kasar yang relatif rendah sehingga cocok untuk pakan ayam. Kadar protein jagung 8,5% jauh lebih rendah kebutuhan ayam broiler yang mencapai (>22%) dan ayam petelur (>17%), tetapi pertimbangan penggunaan jagung sebagai pakan adalah untuk energi. Jagung juga mengandung 3,5% lemak, terutama terdapat di bagian lembaga biji. Kadar asam lemak linoleat dalam jagung sangat tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pakan ayam petelur. Sedangkan kandungan Ca dan P yang relatif rendah, selain itu jagung juga mengandung lisin dan metionin yang relatif rendah di banding gandum dan dedak.

Adapun kandungan gizi yang terkandung dalam jagung adalah sebagai berikut:

  • Nutrisi                         Kuantitas
  • Bahan kering               75 – 90 %
  • Serat kasar                   2,0 %
  • Protein kasar               8,9 %
  • Lemak kasar                3,5 %
  • Energi gross                3918 Kkal/kg
  • Niacin                          6,3 mg/kg
  • Calsium                       0,02 %
  • Fosfor                          3000 IU/kg
  • Vitamin A                   –
  • Asam Pentotenat         3,9 mg/kg
  • Riboflavin                   1,3mg/kg
  • Tiamin                         3,6 mg/kg

Kami jual beli jagung pipil untuk pakan ternak atau jagung pipilan kering. Khusus penjualan yang dilakukan oleh perusahaan kami adalah jagung impor, sedangkan untuk pembelian kami membeli jagung lokal dengan kapasitas berapapun kami tampung. Kami juga menawarkan kemitraan untuk kestabilan harga yang selalu turun saat mulai panen, hal ini juga bisa memberikan peluang bagi pemasok partai kecil untuk bisa menjual jagungnya kepada kami. Untuk memenuhi kebutuhan pabrik bahan baku pakan ternak feedmil di Indonesia. Kami melayani pembelian dengan jumlah besar maupun kecil dengan minimal order 50ton. Selain jagung pipil kering , kami juga menampung dengan toleransi Kadar Air 24%, hal ini sangat membantu para pemasok atau supplier untuk mempermudah proses penjualan dan meminimalisir terjadinya batal jual karena kualitas basah.

Jenis dan Klasifikasi Jagung

Berdasarkan tujuan penggunaan atau pemanfaatannya, komoditas jagung di Indonesia dibedakan atas jagung untuk bahan pangan, jagung untuk bahan industri pakan, jagung untuk bahan industri olahan, dan jagung untuk bahan tanaman atau disebut benih. Masing-masing jenis bahan tersebut memiliki nilai ekonomi yang berarti.

Biji pipilan kering digunakan untuk pakan ternak seperti ayam, itik, puyuh, dan babi, sedangkan seluruh bagian tanaman (brangkasan) jagung atau limbah jagung, baik yang berupa tanaman jagung muda maupun jeraminya dimanfaatkan untuk pakan ternak ruminansia. Selain itu, jagung juga berpotensi sebagai bahan baku industri makanan, kimia farmasi dan industri lainnya yang mempunyai nilai tinggi, seperti tepung jagung, gritz jagung, minyak jagung, dextrin, gula, etanol, asam organik, dan bahan kimia lain. Disamping itu, bahan tanaman jagung yang umum disebut benih, merupakan bagian terpenting dalam suatu proses produksi jagung itu sendiri.

Plasma nutfah tanaman jagung yang tumbuh di dunia mempunyai banyak jenis. Para ahli botani dan pertanian mengklasifikasikan tanaman jagung berdasarkan sifat endosperma (kernel) sebagai berikut.

Biji Jagung Berdasarkan Sifat Endosperma

Berdasarkan penampilan dan tekstur biji (kernel), jagung diklasifikasikan ke dalam 7 tipe yaitu:

* flint corn,
* dent corn,
* sweet corn,
* pop corn,
* floury corn,
* waxy corn dan
* pod corn.

Dari ketujuh jagung tersebut, jagung mutiara (flint corn) dan semi gigi kuda (dent corn), serta jagung manis (sweet corn) yang banyak dibudidayakan di Indonesia.

a. Jagung mutiara (flint corn) – Zea mays indurata

Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat, licin, mengkilap dan keras karena bagian pati yang keras terdapat di bagian atas dari biji. Pada waktu masak, bagian atas dari biji mengkerut bersama-sama, sehingga menyebabkan permukaan biji bagian atas licin dan bulat. Pada umumnya varietas lokal di Indonesia tergolong ke dalam tipe biji mutiara. Sekitar 75% dari areal pertanaman jagung di Pulau Jawa bertipe biji mutiara. Tipe biji ini disukai oleh petani karena tahan lama di gudang.

b. Jagung gigi kuda (dent corn) – Zea mays identata

Bagian pati keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan pati lunaknya di tengah sampai ke ujung biji. Pada waktu biji mengering, pati lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut dari pada pati keras, sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji. Tipe biji dent ini bentuknya besar, pipih dan berlekuk. Jagung hibrida tipe dent adalah tipe jagung yang populer di Amerika dan Eropa. Di Indonesia, terutama di Jawa, kira-kira 25% dari jagung yang ditanam bertipe biji semi dent (setengah gigi kuda).

c. Jagung manis (sweet corn) – Zea mays saccharata

Bentuk biji jagung manis pada waktu masak keriput dan transparan. Biji jagung manis yang belum masak mengandung kadar gula lebih tinggi dari pada pati. Sifat ini ditentukan oleh satu gen sugary (su) yang resesif. Jagung manis umumnya ditanam untuk dipanen muda pada saat masak susu (milking stage).

d. Jagung berondong (pop corn) – Zea mays everta

Pada tipe jagung pop, proporsi pati lunak dibandingkan dengan pati keras jauh lebih kecil dari pada jagung tipe flint. Biji jagung akan meletus kalau dipanaskan karena mengembangnya uap air dalam biji. Volume pengembangannya bervariasi (tergantung pada varietasnya), dapat mencapai 15-30 kali dari besar semula. Hasil biji jagung tipe pop pada umumnya lebih rendah daripada jagung flint atau dent.

e. Jagung tepung (floury corn) -Zea mays amylacea

Zat pati yang terdapat dalam endosperma jagung tepung semuanya pati lunak, kecuali di bagian sisi biji yang tipis adalah pati keras. Pada umumnya tipe jagung floury ini berumur dalam (panjang) dan khususnya ditanam di dataran tinggi Amerika Selatan (Peru dan Bolivia).

f. Jagung ketan (waxy corn) – Zea mays ceratina

Endosperma pada tipe jagung waxy seluruhnya terdiri dari amylopectine, sedangkan jagung biasa mengandung ± 70% amylopectine dan 30% amylose. Jagung waxy digunakan sebagai bahan perekat, selain sebagai bahan makanan.

g. Jagung pod (pod corn) – Zea mays tunicata

Setiap biji jagung pod terbungkus dalam kelobot, dan seluruh tongkolnya juga terbungkus dalam kelobot. Endosperma bijinya mungkin flint, dent, pop, sweet atau waxy.

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Umur Tanaman

Kelompok varietas tanaman jagung berdasarkan umur tanamannya terbagai menjadi tiga seperti dijelaskan dibawah ini :

1.Varietas Berumur Pendek (Genjah) : umur panennya berkisar antara 70 – 80 hari setelah tanam (HST). Contoh : varietas Medok, Madura, Kodok, Putih Nusa, Impa Kina, dan Abimayu.

2.Varietas Berumur Sedang (Medium) : umur panennya berkisar antara 80 – 100 HST. Contoh : varietas Panjalinan, Bromo, Arjuna, Sadewa, Parikesit, Hibrida C-1 dan CPI-1.

3.Varietas Berumur Panjang (Dalam) : umur panennya berkisar antara 80 – 110 HST. Contoh : varietas Harapan, Metro, Pandu, Bima dan Composit-2.

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Tempat Penanaman

Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi. Berdasarkan ketinggian tempat penanaman, jagung dibedakan menjadi dua kelompok varietas sebagai berikut :

a.Varietas jagung dataran rendah : dapat tumbuh dan berproduksi baik di daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 1.000 m dpl. Contoh : varietas Harapan, Arjuna, Sadewa, Parikesit, Bromo, Abimayu, Kalingga dan Wiyasa.

b.Varietas jagung dataran tinggi : dapat tumbuh dan berproduksi baik di daerah yang mempunyai ketinggian lebih dari 1.000 m dpl. Contoh : varietas Bima, Pandu, Kania Putih, dan Baster Kuning

c.Klasifikasi Jagung Berdasarkan Ketahanan Terhadap Hama dan Penyakit. Setiap varietas jagung memiliki ketahanan yang berbeda dengan varietas lain terhadap serangan hama dan penyakit. Berdasarkan sifat ketahanan tersebut tanaman jagung dapat dibedakan menjadi empat jenis varietas :

d.Varietas yang Tahan (Resisten) : varietas yang tahan (tetap tumbuh dan berproduksi dengan baik) apabila dalam keadaan hama dan penyakit berkembang dengan baik serta merupakan tanaman yang jagungnya terserang kurang dari 10%. Contoh : C-1, Pioneer-1, Pioneer-2, Sadewa, Semar-1 dan Semar-2.

e.Varietas yang Toleran : varietas yang toleran terhadap hama dan penyakit ditandai dengan kemampuan varietas jagung yang hanya terserang 11%-25% pada saat hama dan penyakit berkembang dengan baik. Contoh : DMR 5, C1, C2, dan IPB-4.

f.Varietas Setengah Toleran : tanaman yang ditandai dengan kemampuan terserang antara 26%-50% oleh hama dan penyakit pada saat organisme tersebut berkembang dengan baik. Cotohnya : semua varietas jagung unggul.

g.Varietas Peka : tanaman yang ditandai dengan kemampuan terserang lebih dari 50% pada waktu organisme tersebut berkembang biak. Contohnya : varietas Metro.

Klasifikasi Jagung Berdasarkan Pembentukannya:

Tanaman jagung adalah tanaman yang menyerbuk silang, artinya sebagian besar (± 95%) penyerbukannya berasal dari tanaman lain. Pada umumnya tanaman menyerbuk silang atau bersari bebas, susunan genetik antar satu tanaman dengan yang lain dalam suatu varietas akan berlainan. Oleh sebab itu sifat-sifat pada tanaman menyerbuk silang akan menunjukkan suatu varietas yang besar. Walaupun demikian, varietas tersebut masih menunjukkan sifat-sifat yang dapat diukur, seperti tinggi tanaman, bentuk tongkol, tipe biji, warna biji dan sebagianya. Varietas yang telah mengalami seleksi dan adaptasi pada suatu lingkungan akan menunjukkan suatu keseragaman fenotipe yang dapat dibedakan dengan varietas lain. Pada dasarnya varietas jagung digolongkan ke dalam dua golongan varietas berikut.

a. Varietas bersari bebas (non hibrida atau Open Pollinated Variety / OPV)

b. Varietas hibrida

terkandung dalam jagung juga dapat menjaga jantung agar tetap sehat dengan mengendalikan kadar kolesterol dan meningkatkan aliran darah dalam tubuh.

Jenis-Jenis

Jenis-jenis jagung yang dikembangkan di Indonesia yaitu jagung hibrida, jagung komposit dan Jagung transgenik. Jagung hibrida merupakan keturunan pertama dari persilangan dua tetua yang memiliki karakter/sifat yang unggul. Shull (1908) merupakan orang yang pertama kali menemukan bahwa hasil persilangan sendiri tanaman jagung mengakibatkan terjadinya depresi inbreeding, dan persilangan dua tetua yang homozigot menghasilkan F1 yang sangat vigor. Jagung komposit atau biasanya disebut jagung lokal adalah jenis jagung yang pada jaman dulu ditanam petani setempat yang menyerbuk sendiri tanpa bantuan manusia. Jagung transgenik merupakan jenis jagung hasil dari penyisipan gen seperti gen tahan penyakit, gen tahan hama maupun gen tahan obat kimia yang berasal dari makhluk hidup atau non-makhluk hidup sehingga tanaman itu menjadi tanaman super.

Manfaat

Jagung memiliki banyak manfaat bagi tubuh karena kandungan nutrisinya, diantara manfaatnya yaitu dapat menurunkan hipertensi sehingga dapat mencegah penyakit jantung. Jagung dapat mengontrol diabetes, memperlancar pencernaan, mencegah sembelit dan wasir karena jagung kaya akan serat, bahkan dapat menurunkan risiko kanker usus besar. Jagung juga mengandung sebagian besar magnesium, tembaga besi, dan yang terpenting adalah kandungan fosfor yang baik untuk kesehatan tulang, nutrisi ini tidak hanya mencegah tulang retak karena pertambahan usia, tapi juga meningkatkan fungsi ginjal.

Keunggulan dan Kekurangan

Keunggulan dan kekurangan jagung hibrida, jagung komposit dan jagung transgenik antara lain Jagung hibrida memiliki tingkat produksi yang tinggi, dapat mencapai 8-12 ton per hektar. Adapun kekurangannya adalah jagung hibrida tidak dapat dijadikan benih untuk ditanam kembali karena produksinya akan turun mencapai 30 % hal ini menimbulkan ketergantungan bagi petani terhadap benih jagung hibrida tersebut, selain itu harga jagung hibrida jauh lebih mahal. Contoh dari varietas jagung hibrida adalah Pioner dan BISI.

Keunggulan jagung komposit adalah umurnya pendek, tahan terhadap hama penyakit, dapat ditanam secara berulang-ulang sehingga tidak menyebabkan ketergantungan petani. Kekurangan jenis jagung komposit adalah tingkat produksi rendah hanya sekitar 3-5 ton per hektar. Contoh dari jagung komposit adalah Arjuna, Bisma, Gajah Mas, dan Genjah Rante.

Jagung transgenik memiliki keunggulan kapasitas produksinya besar sekitar 8-10 ton per hektar, tahan penyakit, tahan hama tertentu, dan tahan obat kimia namun jagung transgenik juga memiliki kekurangan, seperti bibit jagung harus beli di toko karena tidak dapat diproduksi oleh petani, dapat menimbulkan hama penyakit baru yang lebih kebal obat-obatan kimia, menimbulkan penyakit-penyakit baru bagi ternak dan manusia serta menimbulkan kerusakan pada tanah. Contoh varietas jagung transgenik adalah jagung BT, jagung Terminator, dan jagung RR-GA21.

Teknik Budidaya

Beberapa teknik budidaya jagung yang dapat diterapkan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut : hal pertama yang harus dilakukan adalah penggunaan benih unggul bermutu bersertifikat sehingga menjamin kualitas dan kuantitas jagung yang akan dihasilkan. Pengolahan lahan menjadi perlu dilakukan untuk menggemburkan tanah yakni memberikan sirkulasi udara pada tanah serta mengeluarkan hama atau penyakit yang berada di dalam tanah kemudian dilakukan pembersihan tanah dari gulma. pH tanah yang sesuai untuk menanam jagung adalah 5,6 – 7,7.

Pembuatan bedengan diperlukan untuk menghindari tanaman agar tidak rebah, bedengan dibuat selebar 70-100 cm dan tingginya 10-20 cm, panjangnya disesuaikan dengan kondisi dan kontur lahan. Di daerah yang kering, tinggi bedengan sebaiknya dibuat agak rendah untuk memudahkan penyiraman karena jika terlalu tinggi akan membutuhkan banyak air saat penyiraman. Untuk mencegah atau membunuh hama pada bedengan taburkan secara merata intektisida Furadan 3G dengan dosis 10-20 kg/hektar lahan.

Penanaman jagung diatur dengan jarak tanam dalam satu baris sekitar 20 cm, sedangkan jarak antar baris 70-75 cm. Bila bedengan yang dibuat selebar 2 meter, akan terdapat setidaknya 3 baris tanaman jagung dalam satu bedeng, kemudian masukkan 2 biji benih jagung dalam satu lubang tanam, untuk kedalaman lubang tanamnya biasanya 3 – 5 cm. Pemberian pupuk  yang paling efektif adalah bersamaan dengan pengolahan tanah sehingga pupuk yang diberikan akan tercampur merata dengan tanah di lahan, tetapi dapat juga pada saat akan membuat lubang tanam. Kebutuhan pupuk disesuaikan dengan luas lahan yang digunakan, sebagai patokan, untuk lahan tanam seluas satu hektar, pupuk yang diberikan sebanyak 20-40 ton. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk kandang dan NPK, Pupuk kandang yang diberikan harus matang, yakni kering, tidak berbau, teksturnya remah dan gembur.

Pemeliharaan jagung dengan melakukan penyiraman dan pengontrolan terhadap hama dan penyakit. Ada 5 fase pertumbuhan jagung yang memerlukan penyiraman, yakni fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan vegetatif, fase pembungaan, fase pengisian biji dan fase pematangan. Jagung dapat dipanen sekitar 100 HST, tergantung dari jenis benih yang digunakan. Secara fisik jagung yang siap panen terlihat dari daun klobotnya yang mengering dan berwarna kekuningan.

Teknik Kemasan Jagung Pipil untuk Meminimumkan Kadar Aflatoksin

Penyimpanan jagung tanpa pengeringan yang cukup menjadi suatu tantangan terhadap resiko tercemar aflatoksin yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Kadar air awal pada saat penyimpanan memegang peran penting bagi cendawan karsinogenik untuk tumbuh dan memproduksi aflatoksin. Perubahan kadar air selama penyimpanan sangat dipengaruhi oleh suhu dan RH gudang penyimpanan.

Jagung merupakan komoditas biji-bijian yang mampu menyerap kembali uap air jika disimpan pada kondisi lingkungan terbuka. Jagung yang telah tercemar aflatoksin jika dikonsumsi akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Penyimpanan jagung melalui modifikasi atmosfer yang terbentuk pada kemasan hermetik telah mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan produksi aflatoksin. Namun, kemasan hermetik merupakan produk impor dan harganya relatif mahal untuk diterapkan di tingkat petani dan pedagang pengumpul. Penyusunan dua lapis kemasan berbahan plastik HDPE dan polipropilen diharapkan mampu menekan produksi aflatoksin dan menghambat pertumbuhan cendawan selama penyimpanan. Penelitian dilaksanakan pada Oktober-Agustus 2017 di laboratorium Siswadhi Soeparjo, laboratorium Teknik Pengolahan Pangan Hasil Pertanian (TPPHP) Departemen Teknik Mesin Biosistem, laboratorium Mikologi Departemen Proteksi Tanaman, dan laboratorium Mikologi Seameo Biotrop.

Pada penelitian ini, kadar air awal jagung dibagi ke dalam 2 kelompok yaitu: kadar air 12-13% dan 17-18%.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah jenis kemasan dengan 3 taraf, yaitu (J0) karung plastik, (J1) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik hermetik GrainPro, dan (J2) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik HDPE+plastik polipropilen.

Faktor kedua adalah inokulasi sumber inokulum dengan 2 taraf, yaitu (M0) tanpa inokulasi sumber inokulum, dan (M1) dengan inokulasi sumber inokulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jagung pipil yang telah disimpan selama 3 bulan pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air rendah (12-13%) telah mampu mempertahankan kadar air bahan tetap rendah, sedangkan pada kemasan J0 sebagai kontrol telah mengalami peningkatan kadar air menjadi 14%. Di kedua jenis kemasan tersebut, persen infeksi cendawan masih sekitar 2% setelah disimpan selama 3 bulan. Sementara itu, penyimpanan jagung pipil pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air tinggi (17-18%) menunjukkan bahwa kadar air bahan tetap tinggi selama penyimpanan.

Persen infeksi cendawan mencapai 3-17% pada kedua jenis kemasan tersebut. Penyimpanan jagung pipil dengan kemasan J2 pada ka. tinggi selama 3 bulan beresiko tercemar aflatoksin serta biji mengalami fermentasi.

Petani dan pedagang pengumpul yang ingin menyimpan jagung dapat mencoba alternatif lain menggunakan kemasan J2 dengan mempertimbangkan harga, kemudahan dan ketersedian bahan dimana kadar air harus dibawah 13%.

Penanganan Pascapanen Jagung

 Di Indonesia, bagian terbesar dari produksi jagung dimanfaatkan untuk keperluan industri pakan, sedangkan jumlah yang dikonsumsi langsung dan digunakan dalam industri pangan relatif kecil. Sebagian kecil lagi jagung ditanam untuk dikonsumsi sebagai sayuran, yaitu jenis jagung manis, tetapi dipanen lebih muda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai produk biji-bijian. Penanganan pascapanen jagung sebagai produk biji-bijian meliputi panen, yang dapat dilakukan pada tingkat kadar masih tinggi (lebih dari 30%) ataupun ketika kadar air jagung sudah cukup rendah (20-25%), perontokan, dan pengeringan, baik pengeringan jagung tongkol maupun jagung pipil.

Proses pengolahan jagung di Indonesia dilakukan secara manual maupun secara mekanis. Peralatan mekanis yang digunakan dalam proses pengolahan jagung hampir sama dengan yang digunakan dalam pengolahan gabah, kecuali pada tahap penggilingan yang memang tidak dilakukan pada jagung. Perontok mekanis untuk jagung hampir sama dengan perontok mekanis padi, hanya berbeda dalam konstruksi gigi perontoknya. Bahkan ada perontok mekanis yang dirancang untuk merontokkan padi, jagung, dan kedelai sekaligus. Sedangkan pengering padi tipe bak misalnya, dapat langsung digunakan untuk mengeringkan jagung pipil, hanya pengaturan suhu dan laju aliran udara saja yang mungkin berbeda. 

Panen biasanya dilakukan dengan cara memetik langsung menggunakan tangan dari tanamannya atau dengan cara menebas batang tanaman menggunakan sabit lalu melepas jagungnya dari batang yang dikumpulkan. Kulit jagung kemudian dikupas dan jagungnya dikeringkan hingga kadar airnya 20-25% basis basah dengan cara penjemuran. Jagung tongkol kemudian dirontokkan menggunakan mesin perontok seperti diperlihatkan pada Gambar 1. Bila tidak tersedia perontok mekanis, petani merontokkan jagung dengan cara menghamparkannya di atas alas, lalu memukulnya menggunakan tongkat kayu. Cara lain adalah menggunakan alat perontok manual yang terbuat dari kayu (gosrokan dan pemipil kayu), atau dari besi (pemipil besi berputar), namun kapasitas perontokannya jauh lebih kecil. Jagung yang telah dirontokkan (jagung pipil) kemudian dijemur lagi hingga kadar airnya sekitar 14%.

Perontokan jagung menggunakan perontok mekanis

üSusut jagung pipil oleh perontokan pascapanen jagung yang dikerjakan secara tradisional. Penggunaan perontok mekanis dapat menurunkan tingkat susut tercecer sekitar 3%, dan tingkat susut mutu sekitar 2.5%, sementara penggunaan mesin pengering untuk jagung pipil dapat menurunkan susut mutu sekitar 2%. Perhatian utama dalam penanganan pascapanen jagung adalah pada masalah kontaminasi jagung oleh jamur Aspergillus sp. yang dapat memproduksi racun aflatoxin. Penundaan waktu pengeringan dapat menimbulkan masalah ini karena jamur dapat tumbuh dengan mudah pada jagung yang berkadar air cukup tinggi. Sekali jagung tercemar oleh aflatoxin, industri tidak akan menerimanya, sedangkan untuk dikonsumsi secara langsung juga sangat berbahaya mengingat aflatoxin tidak dapat dinetralisir melalui pemasakan.

Kegiatan Pascapanen 

Susut Jumlah (%)

Susut Mutu (%)

Dipanen pada KA 20-25%

1. Panen

< 0.1

3.0

2. Pengangkutan

< 0.1

-

3. Perontokan

4.0

4.0

4. Penjemuran

0.5

2.0

Jumlah

4.5

9.0

Dipanen pada KA 30%

1. Panen

< 0.1

2.0

2. Pengangkutan

< 0.1

-

3. Penjemuran jagung tongkol

0.5

2.0

4. Perontokan

4.0

4.0

5. Penjemuran jagung pipil

0.5

2.0

Jumlah

5.0

10.0

Perlakuan

Rata – rata Intensitas Kerusakan

Rata – rata Kadar Air Akhir

A1

24,65 a

10,02 a

A2

30,91 b

11,50 b

A3

37,09 c

13,45 c

A4

42, 26 c

16,50 d

A5

71,23 d

17, 87 e

BNJ0,05=5,62

BNJ0,05=0,78

Identifikasi Kadar Air Biji Jagung

Hampir semua masyarakat Indonesia pasti mengenal jagung. Jagung sendiri merupakan tumbuhan dari jenis zea yang bisa diolah menjadi berbagai macam bahan makanan. Jagung bisa dijadikan bahan makanan pokok pengganti nasi. Bisa juga diolah menjadi berbagai macam bahan makanan lain seperti tepung maizena, popcorn, jagung bakar, jagung rebus, jagung manis, sayur, minyak jagung, gula jagung, pakan ternak dan berbagai macam olahan makanan lainnya. Selain itu bagian dari tanaman jagung juga masih bermanfaat seperti daunnya untuk makan ternak dan janggelnya untuk bahan bakar tradisional.

Banyaknya manfaat dari jagung dikarenakan kandungannya yang beragam. Diketahui bahwa jagung mengandung karbohidrat, protein, Vitamin C, vitamin A, Vitamin B6, lemak, dan berbagai mineral lainnya. Banyaknya olahan jagung menjadikan permintaan pasar akan jagung sangatlah tinggi. Hal inilah yang menjadikan jagung masih dijadikan salah satu komoditas pertanian utama di dunia selain beras dan gandum. Karena itulah sampai sekarang  banyak petani di Indonesia yang berupaya untuk membudidayakan jagung.

Jagung yang dibudidayakan tentunya jenis jagung yang berkualitas unggul yaitu mampu menghasilkan biji jagung lebih banyak dan sesuai permintaan pasar.  Nah, salah satu jagung yang memiliki kualitas unggul adalah jagung hibrida.

Jagung hibrida adalah jenis jagung keturunan langsung (F1) hasil persilangan 2 atau lebih varietas jagung yang memiliki sifat-sifat unggul dari masing-masing varietas yang disilangkan. Sifat-sifat unggul yang ditawarkan biasanya adalah mampu bertongkol 2, ukuran biji lebih besar, ukuran tongkol juga lebih besar, masa panen lebih singkat, dll.

Tips Sukses Budidaya Jagung Hibrida:

1.Gunakan benih unggulan. Jika anda membeli di toko pertanian maka jangan tergiur untuk membeli benih dengan harga murah (kecuali promosi) karena harga benih juga menentukan kualitas tanaman nantinya. Usahakan pilih yang bertongkol dua.

2.Semprotkan ZPT Gibrelic Acid bersama pupuk organik cair saat buah jagung masih muda (sekitar usia 1,5 bulan). Hal ini akan menambah berat dan ukuran bijinya nanti. Lakukan penyemprotan ini 2 kali yaitu selang 2 minggu.

3.Jika menanam jagung maka sebaiknya usahakan panen dimusim kemarau.

4.Jika panen mendekati musim hujan maka tidak usah menanam jagung lagi. Anda bisa melakukan teknik tumpang sari yaitu dengan kacang panjang yaitu segera menanam biji kacang panjang dibawah tanaman jagung yang sudah tua agar batangnya bisa dijadikan air.

Pemanenan jagung dilakukan pada saat jagung telah berumur sekitar 100 hari setelah tanam (HST) tergantung dari jenis varietas yang digunakan. Jagung yang telah siap panen atau sering disebut masak fisiolologis ditandai dengan daun jagung/klobot telah kering, berwarna kekuning-kuningan, dan ada tanda hitam di bagian pangkal tempat melekatnya biji pada tongkol (BKP3, 2009). Panen yang dilakukan sebelum atau setelah lewat masak fisiologis akan berpengaruh terhadap sifat fisikokimia jagung hibrida terutama kadar air dan berat biji jagung. Pemanenan dan penaganan pasca panen yang tidak tepat akan sangat berpengaruh terhadap penurunan kualitas mutu dan berdampak pada pendapatan petani.

Penurunan kadar air dan berat biji jagung menyebabkan petani mengalami kerugian, akan tetapi kadar air yang tinggi dapat menyebabkan harga jagung menurun dan cepat mengalami kerusakan. Salah satu aspek penanganan pasca panen yaitu pemanenan pada waktu yang tepat dan dimaksudkan agar jagung yang dipanen dapat bertahan lama, tidak mengalami kerusakan serta kandungan gizi yang terdapat pada bahan pangan tidak banyak mengalami perubahan.

Untuk melihat Intensitas kerusakan biji jagung pada 5 perlakuan kadar air yang berbeda, dilakukan pengukuran terhadap berat biji jagung awal dan akhir. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan perlakuan sangat berbeda nyata.

Intensitas Kerusakan Biji Jagung Oleh Hama Sitophilus zeamays dan Kadar Air Akhir pada Tingkat Perlakuan Kadar Air (%)

Uji dikelompokkan mulai dari kategori kerusakan ringan sampai kerusakan berat. Dari hasil pengelompokkan ini jelas terlihat bahwa kadar air 9 persen (A1) tingkat kerusakannya paling kecil dan dikategorikan memiliki tingkat kerusakan ringan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kadar air 9 persen paling tahan terhadap hama Sitophilus zeamays. Sementara kadar air 17 persen memiliki tingkat kerusakan terbesar, sehingga dapat dinyatakan bahwa kadar air tersebut dikategorikan sangat berat, dan kadar air 17 persen tidak tahan terhadap hama dan penyakit.

Dari hasil uji BNJ intensitas kerusakan pada 2 tempat penyimpanan untuk 5 tingkat perlakuan semuanya berbeda nyata satu sama lain tetapi pada perlakuan kadar air 11 persen sampai perlakuan kadar air 15 persen dikategori-kan memiliki tingkat kerusakan yang sedang. Perbedaan intensitas kerusakan ini kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan kadar air. Sehingga dapat dikatakan bahwa jika kadar air biji jagung rendah maka kerusakannya juga rendah.

HE73 Halogen Moisture Analyzer Mettler Toledo adalah solusi andal untuk menentukan kadar air dari produk anda. Moisture analyzer yang andal dan terjangkau ini menerapkan pengalaman luas METTLER TOLEDO dalam instrumen presisi manufaktur dan keahlian analisis kadar air. HE73 dirancang di Swiss dan menerapkan pengalaman luas Mettler Toledo dalam instrument presisi manufaktur, mudah digunakan bahkan bagi operator yang belum terlatih.

Standar Produksi

Dalam Perdagangan Jagung Pipil Kering

  1. Ruang Lingkup 

Standar produksi tanaman jagung meliputi: standar klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomondasi.

  1. Diskripsi

Standar mutu jagung di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI01- 03920-1995.

  1. Klasifikasi dan Standar Mutu 

Berdasarkan warnanya, jagung kering dibedakan menjadi 

- jagung kuning (bila sekurang kurangnya 90% bijinya berwarna kuning)

- jagung putih (bila sekurangkurangnya bijinya berwarna putih) dan

- jagung campuran yang tidak memenuhi syarat syarat tersebut. 

Dalam perdagangan internasional, komoditi jagung kering dibagi dalam 2 nomor HS dan SITC 

berdasarkan penggunaannya yaitu jagung benih dan non benih.

  1. Syarat Umum dan Syarat Khusus

4.1. Syarat Umum :

Bebas hama dan penyakit. 

Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.

Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida. 

Memiliki suhu normal.

4.2. Syarat Khusus:

Kadar air maksimum (%) : 

mutu I=13; mutu II=14; mutu III=15; mutu IV=17. 

Butir rusak maksimum (%) : 

mutu I=2; mutu II=4; mutu III=6; mutu IV=8. 

Butir warna lain maksimum (%) : 

mutu I=1; mutu II=3; mutu III=7; mutu IV=10. 

Butir pecah maksimum (%) : 

mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3; mutu IV=3. 

Kotoran maksimum (%) : 

mutu I=1; mutu II=1; mutu III=2; mutu IV=2.

Untuk mendapatkan standar mutu yang disyaratkan maka dilakukan beberapa pengujian diantaranya

  1. Penentuan adanya hama dan penyakit, baru dilakukan dengan cara organoleptik kecuali 

adanya bahan kimia dengan menggunakan indera pengelihatan dan penciuman serta dibantu dengan peralatan dan cara yang diperbolehkan. 

  1. Penentuan adanya rusak, butir warna lain, kotoran dan butir pecah dilakukan dengan cara 

manual dengan pinset dengan contoh uji 100 gram/sampel. 

  1. Persentase butir-butir warna lain, butir rusak, butir pecah, kotoran ditetapkan berdasarkan berat masing-masing komponen dibandingkan dengan berat contoh analisa x 100 % 
  2. Penentuan kadar air biji ditentukan dengan moisturetester electronic atau “Air Oven Methode” (ISO/r939-1969Eatau  OACE 930.15). 
  3. Penentuan kadar aflatoxin adalah racun hasil metabolisme cendawan Aspergilus flavus, Aflatoxin disini adalah jumlah semua jenis aflatoxin yang terkandung dalam biji-biji jagung. 

Daerah – daerah penghasil utama tanaman jagung di Indonesia adalah:              

  1. Jawa Timur (5.301.927ton )
  2. Jawa Tengah ( 3.372.459 ton )
  3. Jawa Barat ( 952.826 ton )
  4. Sulawesi Selatan ( 1.592.202 ton )
  5. Sulawesi Utara ( 435.401 ton )
  6. Gorontalo ( 430.043 ton ),
  7. Lampung ( 2.014.418 ton )
  8. Sumatera Utara ( 1.230.750 ton )

Khusus di Daerah Jawa Timur, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhan tanaman jagung.